Selasa, 30 Januari 2018
Getar Rindu Yang Tersisa
Mandala langung...mandala langsung
Teriak kondektur taksi jurusan Abe - terminal Entrop.
Hari sabtu ini ada pertandingaan sepakbola antara Klub Kebanggaan Kota ini Persipura Jayapura melawan salah satu klu sepakbola dari Jawa.
Seperti biasanya bila ada pertandingan sepakbola maka Taksi taksi dari berbagai jurusan diberi kebebasan untuk keluar trayek,langsung menuju lapangan Mandala untuk mempermudah para Penonton yang biasanya sangat banyak dari berbagai Penjuru Kota Jayapura maupun dari Kota kota lain di seluruh Papua.
Seluruh Kota akan terlihat berwarna merah, warna khas Persipura, ketika Persipura bertanding pada hari tersebut.
Begitulah keadaannya, prestasi dan gelar gelar yg melambungkan nama Persipura Jayapura hingga sampai di level Asia membuat masyarakat begitu bangga dengan tim ini, ya bukan saja masyarakat Jayapura, namun seluruh masyarakat Papua merasa ikut memiliki Tim yang satu ini.
om masih bisa ka ? teriak Festus yang berteduh di depan sebuah toko di lingkaran abe, tempat taksi Jurusan terminal entrop sering menurunkan dan menaikkan penumpang.
masih ada satu tapi, ekonomi...
trapapa, sa tra mau terlambat..
dialog singkat antara Festus dan Kondektur di siang yang terik itu. ekonomi yang dimaksud kondektur adalah istilah untuk tempat duduk tambahan di pinggir jendela. walau tempat duduknya tidak senyaman tempat duduk yang lain di dalam taksi, namun bayarannya tetap sama, dan banyak penumpang tidak mempersoalkannya.
Taksi di kota Jayapura, seperti layaknya hampir di seluruh Papua, adalah sebutan untuk angkutan umum seperti minibuds atau starwagon maupun yang berukuran lebih kecil lagi, jauh dari nyamannya taksi di pulau jawa.
Baju kaos merah, kaca mata riben (Ray Ban), topi, celana Jins dan sepatu kets, walaupun hanyalah baju baju lama, namun sisa sisa ketampanannya membuat tampilan Festus cukup baik. tidak lupa kantong plastik kecil berisi rokok, pinang dan air putih. lengkaplah sudah.
Festus sebagai salah satu penggemar Persipura selalu berusaha meluangkan waktu untuk menonton setiap kali tim kesayangannya berlaga di stadion Mandala Jayapura.
Begitu tiba di Stadion Mandala, Festus segera mengambil tempat duduk sesuai nomor yang tertera di Karcis yang dibelinya beberapa hari yang lalu. Tribun utama bagian kanan, di deretan paling belakang. posisi yang paling disukai Festus karena aman bila tiba tiba hujan, juga strategis untuk pantau pantau kiri kanan, hahahaha.
Seperti biasa, sebelum laga dimulai, stadion Mandala selalu bergemuruh dengan lagu lagu Papua pembakar semangat yang diputar menggelegar di seluruh stadion, membuat siapapun yang datang langsung menonton di Lapangan mandala, seolah olah terbius, terbawa dalam semangat yang luar biasa, semangat memiliki Tim hebat, yang selalu menjadi favorit Juara, semangat memiliki
Stadion di tepi pantai dengan latar tanjung kayu batu nan indah mempesona.
FIFA fairplay anthem pun berkumandang,mengirimi tim Persipura dan Tim Tamu memasuki lapangan. Tepuk tangan, standing Applaus dan teriakan kebanggaan menggelegar, benar-benar suasana yang penuh semangat.
Sebagai seorang pegawai rendahan di sebuah Kantor Pemerintah, Pertandingan sepakbola adalah pelipur lara, dikala harus bekerja banting tulang setiap saat, Menonton sepakbola di hari sabtu, sangat tepat bagi Festus untuk melepas letih hidupnya, keluar dari rutinitas sehari hari.
Pertandingan berjalan begitu seru, saling jual beri serangan, teriakan teriakan Penonton memanggil manggil nama pemain idolanya membahana sepanjang pertandingan.
Biooooooo....biooooooo...
qu cenggg.......qu cengggg......
teriakan teriakan penonton disekeliling makin membuat suasana begitu bersemangat.
Babak pertama pun diakhiri dengan skor kaca mata ( 0:0 ). Festus beristirahat sejenak, makan pinang dan isap rokok, sambil sesekali melihat hilir mudik penonton yang hendak beristirahat sejenak.
Tanpa sadar, tatapan Festus terpaku pada deretan tempat duduk VIP bagian tengah, seorang gadis manis dgn rambut keriting yang tertata rapih, sedang asing bercanda ria dgn beberapa gadis lain dan beberapa pemuda disekitarnya.
senyum itu........
mata itu.....
leher indah itu.....
gaya tertawa dan bercandanya.....
Festus tersadar, dialah Jeni.
ohhhh makin manis, makin cantik, andehhhhh sioooo sa pu sayang dulu....
ohhhhhhh ujar festus dalam hati
Festus hapal benar tentang gadis ini, betapa tidak, Jeni adalah teman smanya dahulu, Jenilah cinta pertamanya...
hubungan percintaan yang pernah begitu indah sejak di bangku kelas 1 hingga kelas 3 sma bahkan berlanjut di bangku kuliah ketika mereka berdua sama sama menempuh perkuliahan di tanah jawa.
Jantung Festus berdegup kencang, ingin rasanya menyapa, namun perasaan malu dan tidak percaya diri membuat Festus mengurungkan niatnya.
Pikirannya jauh menerawang ke masa-masa lampau, Jeni yang cantik begitu menyayanginya. Festus adalah pujaan hati, bagi Jeni kala itu Festuslah segala galanya. Festuslah yang mengenalkan Jeni pada arti cinta dan nikmatnya masa remaja.
Festus yang memang cerdas sejak masa sekolah dulu, ditambah dengan wajah yang ganteng, tentu saja menjadi idola banyak teman sekolah kala itu.
Festus makin malu, mengingat semua itu, meninggalkan Jeni yg begitu menyayanginya hanya karena
tergoda cinta sesaat seorang teman sekolah yg lain. Masih teringat kala itu, Jeni menangis ketika Festus meminta putus dengannya.
Kini, Jeny nampak begitu bahagia, dari senyumannya, tawanya, ahhhh Festus makin menjadi ragu, ketika menyadari bahwa Jeny yang sekarang sudah jauh berbeda. Kini Jeny adalah putri salah seorang pembesar yang tinggal di kota ini, sedangkan Festus kini, hanyalah seorang pegawai biasa di salah satu kantor Pemerintah, tentu bukan lagi levelnya.
Gooollllllllllllll...... Biooooooooooooo biooooooooooooooooooooooo gooolllllllllllllllllll
Stadion bergemuruh dan teriakan para penonton seketika membuat Festus tersadar dari lamunannya, di penghujung babak ke 2 Bio Paulin, berhasil merobek gawang lawan dengan sundulan mautnya.
Cepat cepat Festus berdiri, bergegas meninggalkan stadion Mandala, walaupun pertandingan masih tersisa 10 menit lagi.
Festus malu, Festus minder, Festus kuatir bila terjadi pertemuan dengan Jeny di stadion ini.
Festus tak sanggup mengenang semuanya.
Laga di lapangan sudah tak dipikirkannya lagi, setidaknya 1:0 bagi Festus cukuplah.
Abe abe abe...... abe langsung...
langsung ka ?
io langsung..
berapa..
sepuluh ribu....
Sepanjang perjalan pulang, pikiran Festus menerawang jauh...
"kenapa sa tra menyapa Jen saja ee"
"de juga ada liat sa ka tidak e"
Festus menyadari... cintanya pada Jen adalah cinta sejati.
meski Festuslah yang bersalah kala itu, dan meskipun waktu sudah bergulir jauh dari masa lalu,
ternyata masih ada.... getar getar rindu yang tersisa.
Jeny pun sebenarnya sempat melihat ketika Festus akan meninggalkan stadion, namun gegap gempitanya stadion dan padatnya Penonton membuat jeny tidak bisa apa apa.
Jen hanya menatap dari kejauhan, dalam hati kecilnya Jen berkata :
"kk.... ko kurus sampe, siapa yg urus ko ka ?"
"kenapa ko menghindar dari saya ?"
"Trada yang bisa gantikan kk ko, sa masih sayang kk"
Andai Festus tau isi hati Jeny..... namun apa hendak dikata...
Dalam laut dapat di duga..dalam hati siapa tahu.
--------------
Dua tahun sudah Sejak pertemuan kembali di Lapangan Mandala, Festus mengubur dalam dalam semua perasaannya kepada Jenny sang mantan, yang begitu membekas dihatinya. Kemarin ketika ada sebuah acara seluruh kabupaten dan kota di Kantor Gubernur, mereka bersua kembali, Jenny makin mempesona, dan Festus semakin tidak mampu memendam kegalauan hatinya.
Sang mantan yang dulu pernah menggoreskan kisah indah kehidupan. Andehh... Festus hanya bisa menarik napas dalam dalam dan menghembuskannya bersama kepulan asap cigaret kegemarannya.
Hari ini di stadion Mnndala, dalam sebuah pertandingan Persipura yg sangat ramai, tanpa disangka dan diduga, tempat duduk Festus berdampingan tepat dengan Jeny dan saudara saudara. Sepanjang pertandingan yang menarik dan gegap gempitanya stadion Mandala, Festus tenggelam dalam angannya. Rasa bersalah, rasa ingin bersama, rasa malu dan rasa tidak berdaya bercampur jadi satu membuat Pikiran Festus melayang jauh melintasi tanjung kayu batu, jauh..jauh tinggi entah mungkin hingga ke negeri Vanuatu nun jauh di sana dibalik awan.
Jenny pun nampak suprise dan kaget mendapati mereka bisa duduk berdampingan di stadion Mandala. Sebuah kebetulan yang membuat hati Jenny berbunga bunga, namun semuanya itu disimpannya dalam hati. Sebagai wanita dewasa kini, jenny tau bersikap, lagi pula jenny tidak sendiri kini, dikelilingi ipar ipar dan saudara membuat jenny harus menjaga sikapnya dgn baik.
Saling melempar senyuman secara formal, bagi Festus sudah lebih dari cukup. Senyum yang dulu pernah begitu membuat Festus mabuk kepayang.
Dalam hatinya Festus bergumam " jenn..... Andai ini dulu..... Tong dua pasti su berpelukan mesra.". Ah Festus makin tenggelam dalam hayalannya pada memory indah dimasa yang sudah lewat.
Festus tidak menonton pertandingan sendiri, kali ini dia mengajak putera kebanggaannya yg baru berumur 5 tahun sebagai teman dan sahabat yg selalu menjadis penghibur dalam kepenatan hidupnya.
Sepanjang pertandingan Jenny menawarkan berbagai macam kue, coklat, minuman kaleng pada sang buah hati Festus.
"Mau coklat ? Ambil sayang, ini ada fanta", tawar Jenny kepada putra Festus.
Festus tak kuasa menolak semua itu demi menjaga kewajaran suasana dan juga menyadari bahwa anaknya begitu menyukai cokelat dan fanta. Memang tidak banyak kue dan minum yang bisa dibeli Festus ketika nonton bola, sudah bisa membeli karcis di tempat terbaik saja sudah merupakan pencapaian besar bagi Festus. Betapa tidak, sebagai pegawai negeri rendahan di sebuah instansi pemerintah, di tengah kesederhanaan dan kekurangan, Persipura adalah segalanya. Sebagian gaji yang pas pasan disisihkan demi membeli karcis, bagi Festus, biar tra punya apa-apa tapi masih ada Persipura.
Singkat cerita pertandingan pun usai dan para penonton mulai beranjak meninggalkan lapangan Mandala. Demikian juga Festus dan putranya, saling bersalaman seadanya dengan Jenny dan ipar iparnya. Semua gejolak perasaannya di stadion Mandala disimpannya dalam dalam.
"Biarlah ..smua su berlalu...... Lihat ini anak laki-laki gagah yg bersama ko Festus, jang menghayal takaruang lagi". Festus bicara pada dirinya sendiri.
Ditempat parkiran motor sang putra berujar dengan riang :
"Bapa..tadi tanta yg disebla kitong dua tu, de kasih kk uang, baru de bilang nanti su pulang baru kase tau bapa, tanta de bilang kk harus sayang bapa, Sambil mengeluarkan lembaran 100 ribu yang tersusun rapi dan diikat karet dari dalam saku celananya.
Festus kaget sambil menghitung lembaran uang ini, 3 juta rupiah. Memang 3 juta bagi jenny yang kini adalah anak petinggi di tanah ini, bukanlah jumlah yang luar biasa, tapi bagi Festus....wahhhhh....ingin marah, malu, merasa sedih atau juga bahagia..semua berkecamuk di dalam dada. Betapa tidak, meski seorang pegawai rendahan Festus menanamkan pada anaknya untuk hidup mandiri tidak boleh tergantung pada belas kasihan orang lain, di sisi lain kata kata Jenny lewat anaknya ini begitu menusuk kalbunya.
Achh....cepat cepat dipakainya helm untuk menutupi matanya yang mulai berkaca kaca....."mari tong dua pulang..mama su tunggu"







0 komentar:
Posting Komentar
Harap Berikan Komentar Yang Membangun Dan Wajar, Terima Kasih.