Selamat datang, amakanie..!

"Suara dari Gunung Esbatu"

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Februari 2026

Majulah (Part 1)


Terlihat langit lazuardi sungguh bersih. Sang surya kian meninggi, meninggalkan ufuk nan timur. Bunga-bunga bermekaran mencoba tersenyum menyapa bumi. Hari itu pelajaran full di kelasnya Amos. Amos adalah seorang pria muda asal Intan Jaya, Papua. Dia merantau di Tanah Flores demi pendidikan dan panggilannya. Setelah menamatkan di sebuah Sekolah Dasar Yayasan Pendidkan Persekolahan Katolik (SD YPK Bilogai) di pedalaman Papua, ia melanjutkan di Sekolah Menengah Pertama Swasta di Desa Lamalera-Lembata-NTT.

Kini ia bertarung citanya di lembaga pendidikan calon imam di pedalaman Flores (SESADO). Cepat atau lambat yang pasti usianya telah dimakan sang waktu hingga pada usia remaja. Jam pelajaran pertama belum selesai. Tiba-tiba seorang pegawai tata usaha (Pak Damas) memanggilnya bahwa tamunya lagi menunggu di pendopo agung (Patres) seminari. Atas ijinan guru mata pelajaran saat itu (Pak Frans D.) dia segera meninggalkan ruang kelas dan menuju ke pendopo patres. “Siapa sebenarnya tamu itu?” tanyanya dalam hati. Semut tak bakalan mati jika diinjaknya. Dia berlangkah demikian pelan; melewati lorong-lorong kecil yang di kiri kanannya dihiasi bunga-bunga yang bermekaran menyapa bumi. Dari balik jendela kaca terlihat seorang wanita berkerudung putih. “Wah,siapa ini?” kagetnya dalam hati.

Aduh, ternyata ayahnya juga ada di ruangan itu. Rupanya bersama suster asal Flores yang bertarekat PRR itu. Ayahnya sedang duduk di kursi rotan yang telah disiapkan bagi para tamu. Sedangkan suster itu sedang melihat lukisan-lukisan yang digantungkan di setiap dinding untuk menghiasi ruangan itu. Sungguh, Ayahnya tak sanggup lagi untuk mengempangi kerinduan pada buah hatinya.

Anaknya jauh di tanah orang. Jauh di balik berbagai pulau. Sudah lama meninggalkan kampung halamannya, orang tuanya, serta sanak saudaranya. Pagi itu di Lembah Hokeng indah sekali. Kasih mentari bersinar begitu lembut. Berkas cahayanya menyinari bumi pertiwi. Bunga-bunga terlihat hijau mengkilat. Mencuri hati untuk menawar segumpal senyum dari setiap yang memandangnya. Dia mendekati ayahnya. Mereka saling berpelukan. “Amakibae…/Kaonak...!”

“Ame jundo, usuama te bigama tia dale...?” tanya Ayahnya dalam bahasa daerahnya, yang berarti ‘Nak, apakah kabarmu baik atau buruk...?’. “Saya baik-baik saja,Bapa!” jawabnya. “Bapa kemari buat apa?” sambung Amos sambil duduk di kursi rotan sebelah kanan Ayahnya. “Ya,tentu saja Bapa datang membawa berita tentang keluarga kita”, kata ayahnya. Ayahnya membawa sebungkus kisah sedih. Kisah kematian Ibundanya tercinta. Ibunya meninggal dunia semasih ia di bangku kelas dua SMP. Amos mendengar berita itu setelah setahun berlalu.

Sebenarnya semua anggota keluarga angkatnya di Tanah Flores sudah mengetahui berita tersebut, namun tak seorang pun yang berani menyampaikan hal itu kepada Amos. Bunga hatinya bermekar duka. Sangat pilu! Kecewa! Hatinya terasa sakit pedih bagaikan tertusuk dedurian belati yang berlapis ganda. Sungguh hatinya sangat pilu.

Tatlama mereka terdiam. Ayahnya menceritakan kisah kematian Ibunda tercintanya. Kedua bola matanya digenangi embun pilu. Kemudian gugur satu demi satu. Mengaliri setiap pipinya. Menembusi baju kaos merah yang dikenakannya hari itu. Air matanya mengalir menganak sungai, kala terbayang kembali kisah-kisah hidup bersama Ibundanya. Tubuhnya terkulai lemah di atas pangkuan kursi rotan itu.

Kali ini tak seekor cecak pun berkeliaran pada setiap dinding ruangan itu. Tak seperti biasanya. Jangankan berkeliaran, bunyi saja tidak. Apakah mereka turut berduka bersama Amos? Hanyalah isakan tangisnya yang memenuhi dan memcahkan kesunyian ruangan itu. Kesedihannya telah gugur dari raut wajahnya. Telah luntur melalui air matanya. Namun dalam hatinya, sungguh takkan pernah luntur walau dicuci dengan peluntur apapun.

“Ayah, apakah semua ini karena saya? Apakah saya sekolah terlalu jauh? Tanya Amos seraya mengusap sisa air mata di pipinya. “Tidak, kau jangan berpikir demikian. Ini takdir. Ini semua kehendak Tuhan.” Jawab Ayahnya sambil mengelus bahu anaknya yang bimbang itu. Betapa malangnya dia. Dia tidak tahu kalau Ibundanya sudah meninggal dunia setahun yang lalu. Setahun lamanya ia hidup tanpa Ibunda. Tuhan telah mengambil milik-Nya. Tapi, tak bisakah Dia memberi sedikit kesempatan lagi untuk melihat bagaimana perkembangan anak-anaknya?

“Tuhan, tak bisakah Engkau memberi sedikit waktu lagi untuk saling berbagi kisah dengan anak-anaknya ini? Sulitkah itu? Seandainya aku punya kuasa seperti-Mu, aku tak mau dia pergi. Aku tak mau dia meningglkan kami, sebelum dia mencicipi buah juang kami!” serunya dalam hati kepada Tuhan. Dia sempat merenung. Bayangkan kembali kisah-kisahnya dulu semasih bersama Ibunya. Namun yang terjadi bukanlah kekuatan, hanyalah genangan air mata yang berseri di balik kelopak matanya.

 Senja kian telah menjembut malam. Cahaya kuning kemerahan yang membentuk garis di ufuk barat telah sirnah menjembut rembulan. Apakah semua kesedihannya terhanyut pergi bersama senja? Telah usai sejuta kisah hidup di atas ribaan sang bumi. Kini malam telah tiba; menyelimuti bumi dengan kembangkan layar hitamnya. Atas ijinan bapak asramanya (Rm.D’jou Niron,Pr), dia tidur bersama ayahnya sekamar. Agar kesedihan dan kerinduannya luntur pergi bersama malam.

“Ayah, bagaimana dengan sekolahku ini? Saya tidak memaksa Bapa untuk harus lanjut sekolah atau tidak,” tanya Amos dengan lemah. “Ah, kau maju dulu. Ayah yakin panggilanmu takkan sia-sia. Majulah!” “Tapi...” sela Amos. “Tuhan pasti tahu. Majulah..!” sambung Ayahnya meyakinkan dan meneguhkan hati anaknya yang bimbang dan ragu menangkapi kondisi ekonomi keluarga mereka.

Ia bimbang karena mengingat kakaknya lagi di bangku SMA serta adik-adiknya di bangku SMP dan SD. Mereka empat bersaudara. Dua pria dan dua wanita. Dia anak kedua. Ayahnya seorang petani. Hasil taninya bisa dikatakan cukup untuk menopang kebutuhan keluarga mereka. Begitu pun dengan Ibunya, tapi sambil jualan kue-kue singkong (Kasbi). Tapi sayang kini tinggal ayahnya.

“Bapa...!” panggilnya lembut. “Wae,kainaga jundo...?” jawab ayahnya sambil melayangkan pandangannya pada raut wajah anaknya. Artinya,’ya, bagaimana anak?’. “Saya senang karena Bapa mau juga ke sini, walau pertamanya saya tolak.” “Nak, sebenarnya Bapa tidak datang, tetapi Bapa khawatir jika aga(kau) terlambat dengar tentang ibumu. Apalagi setelah bertahun-tahun berlalu. Hal itu yang mendorong Bapa untuk mengunjungimu. Selain itu Bapa juga sudah lama menahan rindu pada aga,” jawab ayah Amos penuh iba.

Ayahnya kembali ke kampung halamannya setelah kurang lebih seminggu berada di Tanah Flores. Tiba saatnya mereka harus berpisah. Sungguh perpisahan itu menyedihkan hati anaknya. Dia ingin pulang bersama ayahnya. Ia memandang ayahnya. Rasanya berat sekali melihat ayahnya pulang. Ia menatap raut wajah ayahnya penuh bersirah. Meneguk setitik embun kasih bertanda damai dari hati ayahnya lewat ‘KAONAK’ tanda perpisahan. Alam menjadi saksi perpisahan dua insan itu. Mereka saling berjabat tangan (KAONAK). “Sampai jumpa lagi, Bapa!” seru Amos sedang melambaikan tangannya. “Ya, Nak. Jagalah dirimu baik-baik,” balas ayahnya sambil melangkah ke dalam mobil. Apakah benar, mereka akan berjumpa lagi? Apakah mereka akan berbagi kisah seperti kali ini?

Kini semuanya sia-sia saja. Tinggal kenangan pedih di alam juang. Semuanya jadi kenangan yang perlu diulang. Sebulan lamanya telah berlalu. Kabar angin membawa sehelai berita, bahwa sepulang dari Tanah Flores, ayahnya bertarung hidup di atas ribaan derita. Ayahnya menderita penyakit yang tidak jelas. Tak lama kemudian, datang pula selembar kabar angin menghampiri hidup Amos. Kabar itu membawa bunga duka yang kedua kalinya, bahwa ayahnya telah melepaskan nafas hidupnya pada bulan yang lalu.

Ayahnya pun pergi meninggalkan keempat anaknya sendirian. Amos kini sebatang kara di tanah rantauan. Mengais nasib di atas gelombang pilu yang datang silih berganti. Siapakah yang akan melindungi mereka?

Sungguh besar karya Yang Maha Kuasa atas rencana-Nya. Ayahnya datang bukan sekadar mengunjunginya, tapi sekaligus berpamitan dengan anaknya untuk selamanya. Manusia memang tidak mengetahui akan rencana Tuhan, tetapi Tuhan mengetahui akan rencana manusia. “Tuhan, mengapa Engkau mengambil semuanya dari kami? Bagaimana dengan panggilan-Mu ini? Bagaimanakah dengan harapanku? Apakah aku harus menggali lubang dan menguburkannya dalam tanah? Tapi aku takut, kalau-kalau dia tak bersemi dan berkembang di mata umat manusia. Aku tahu, cobaan-Mu mengukur kemampuan setiap manusia. Tapi jangan terlalu lebih, Tuhan. Jika demikian, kepada siapakah aku harus mengadu mencari tempat berteduh?” seru Amos pada Tuhan dalam untaian doanya.

Gumpalan pilu kini membungkusi hatinya. Mengawani semua derita dalam jiwa. Ingin citanya terus bersemi walau di atas alunan duka lara. Sempat layangkan angannya di atas hidup yang penuh kabut pedih. Hendak kembali ke belakang untuk menengok gundukan tanah orang tuanya. Namun keinginannya goyah diterpa sang waktu dan jarak yang memisahkannya.

Jasad orang tuanya sudah di bawah bumi. Telah menjadi penghuni nirwana. “Ijinkan aku memandang wajah himpunan bumi orang tua untuk nyalakan lilin ungu ini di antara bunga-bunga kamboja yang menghiasinya. Tapi, kalau ini bukan rencana dan kehendak-Mu, maka aku pun tak sudih bunga harapanku jadi layu,” bisik Amos dalam untaian doa kalbunya.

Telah dia tanyakan kepada segala makhluk yang hidup dan mati, namun semuanya diam seribu bahasa. Sunyi membisu memandang keraguan. Dengan demikian, dia tetap pada pendirian. Dia hendak menjawabi apa yang dikatakan ayahnya “Majulah!” Sebab kata-kata perpisahan mereka “Sampai Jumpa Lagi” takkan terjawab.


Cerpen ini mendapat nilai: 95 Pelajaran Sastra Indonesia

Kelas XI Bahasa, SMU SESADO Hokeng 2010

Adolf Sondegau


Share:

Kamis, 09 Maret 2023

HARAPAN DAN SITUASI

"Puisi Kehidupan Cinta"

Penyair: Frengky Sondegau 

HARAPAN DAN SITUASI 

Suatu saat, tepatnya 2013 entah bulan apa dan tanggal berapa dua insan beradu pandang. Dengan berjalannya waktu, pandangan demi pandangan maka muncullah suatu perasaan, entah itu perasaan apa, namun yang dirasakan hanyalah bayangan yang membuat Rindu.

Dengan berjalannya waktu, Rindu pun berkepanjangan karena jarak. Maka Rindu itu tertumpuk, dan akhirnya berubah Menjadi Perasaan Cinta.

Pada posisi ini, Insan Kedua terima bersatu, dengan berbagai kekuatan perasaan, HARAPAN. Namun tidak kalah yang tertipu oleh otak dan keinginan hingga pasrah Menaruh HARAPAN pada Sang waktu. Maka suatu saat, hadirlah Seorang Bidadari kecil, untuk mempersatukan kedua Insan...

Bidadari kecil itu, mengikat kedua insan itu dengan kekuatannya, agar tidak mudah lepas hingga sang waktu menjemput keduanya.

Namun setelah dingin Bidadari kecil itu, ternyata semua perasaan itu tetap tertekan, akhirnya tersadar bahwa semua itu adalah roda kehidupan, yang dikendalikan oleh Sang SITUASI, maka sejak saat itu Benci menaru HARAPAN Kalao pada Akhirnya HARAPAN itu Akan tunduk di bawah kaki SITUASI.


Nabire, 9 Maret 2023

Frengky Sondegau 
Share:

Selasa, 21 Juni 2022

SAHABATKU "PACE" (Surat berpenah Pilu)



“Suaraku tak asing di telinggamu; suaramu juga tak asing di telinggaku. Selalu bersama dalam siang dan malam tapi Om Aldo sangat minta ‘maaf’, kita tidak saling tahu apa yang kita rasakan. Akhirnya, itu yang bisa memisahkan kita; tercipta tembok pemisah (Jurang Maut) antara Kau dan Aku untuk selamanya. Maafkan aku Pace – Sahabatku Tercinta; Temanku Tersayang – Om Aldo berjuang untuk neo-Pace. Semoga arwahmu tidur dengan tenang dalam pelukan Ibu Maha Ibu.”


PACE lahir 26 Agustus 2014. Tepat pukul 12:00 WPB, pada hari Kamis bertanggal 20 November 2014, sahabatku tercinta “PACE” menghembuskan nafas terakhir di rumah kami – Di atas kasur – Migani Nduni-Bukit Yakonde pada usia 87 hari (2 bulan 26 hari). Terbawa oleh harapan yang suram akibat kepergian sahabatku tersayang, “PACE”, maka saya mengenangkan dia dalam lembaran ini dan akan ada peringatan terhadap “PACE” Tercinta. Tiada lagi suara manja-mu, tak kedengaran lagi teriakan ajak bermain yang “PACE” – Sang Sahabatku yang Polos – lagukan kala bertolak lebih, dalam malam. Tidak terlihat lagi tubuh mungil-mu yang unik pada gerakan ekor pendekmu. Keunikanmu itulah menarik perhatian banyak teman.

Tak hanya itu, kau juga menjadi yang terdepan bagi teman-temanmu walau kadang kamu harus menerima kekalahan. Om Aldo selalu menjadi perawat kala kau harus menjadi pasien akibat pertempuran mempertahankan gengsi antara teman-temanmu. Pace selalu mengikuti apa yang Om Aldo mau. Ketika Om Aldo teriak “Pace…Paceee!!!” dari kejauhan, kau selalu membalas teriakan dengan suara merdumu yang khas. Mendengar suara tuanmu, kaulah yang terdepan menyambutnya, bagai ajudan setiaku. Kegembiraanmu membawa suasana gembira bagi teman-temanmu dan penghuni “Migani Nduni” terkhusus untuk Om Aldo. Terbayang dirimu malam ini. makanan sisamu masih tertinggal sayang sahabatku. Mengharapkan kau habisi dulu tapi tiada muka, hanya tinggal nama, “PACE”.


Riwayat Hidup dan Kronologis Kepergian Sahabatku Tercinta, “PACE”

Sahabatku tercinta yang bernama “PACE” lahir pada Selasa, 26 Agustus 2014, malam di rumah “Migani Nduni”. Satu minggu setelah kelahirannya – 03 September 2014 – Om Aldo berbisik di telingganya, “Namamu PACE”. Dengan demikian dia dipanggil “PACE” dengan resmi sebagai nama dirinya. Dalam perjalanan waktu, PACE bertumbuh besar menjadi anak pintar dan anak baik. Tepat pada Senin, 17 November 2014, PACE mendapat sakit. Sakitnya muntah-muntah berbusa, tidak mau makan dan minum. Badannya mulai turun. Walaupun ia sakit tapi keberpihakannya pada kehendak Om Aldo sangat tinggi. Namun selama PACE sakit, ia tidak membalas teriakan memanggil namanya. Malah dia menjauh dari saya. Saya menjadi sedih dan berusaha untuk membantu kesehatannya.

Om Ben membantu saya untuk mencari obat pada Rabu 19 November 2014 dan malamnya saya memberi makan tapi tidak mau makan. Karena pada malam itu ia tidak makan maka saya turun ke kios untuk beli susu dan memberi dia minum tapi tidak mau pula. Kasih makanan enak pun tidak bisa dimakannya. Akhirnya, saya memberi minum obat cacing. Satu pil saya minum dan satunya dibagi dua. Setengahnya itu saya campur dengan air hangat dan memberi minum pada PACE. Tak lama kemudian dia muntah obat itu. Saat tidur seperti biasanya bahwa tidur di kamar. Sejak sakit itu ia tidur di kamar sebelahnya. Biasanya dia tidur dekat kaki Om Aldo.

Sejak 17-20 November 2014, PACE terbaring di atas pangkuan penderitaan. Dia sakit kurang-lebih lima hari. Pada 20 November 2014 saya ke kampus dan dia terbaring sakit di kamar. Ketika jam istirahat datang lihat, PACE masih terbaring. Setelah mengikuti mata kuliah Agama Islam, saya tidak langsung ke kamar saya, tapi saya ke saudara Samuel B. dan sampai waktunya untuk makan, maka saya pergi ke kamar makan. Seperti biasa bahwa makanan untuk PACE saya sediakan yang cukup enak. Sesampai di depan kamar “Migani Nduni” – PACE dan Om Aldo punya kamar – saya teriakin “PACE…PACEE…!!!” Tetapi tidak ada tanda-tanda bahwa ada PACE. Saya masuk ke dalam kamar dan melihat Sahabatku Tercinta; Teman Tersayang; Anak Termanis “PACE” sudah tak berdaya di atas kami punya kasur. PACE tidak memberi salam balasan lagi. Dia sudah menutup mata untuk selamanya. PACE tidak bisa bermain dengan Om Aldo lagi, tidak bisa melihat Om Aldo lagi. “Selamat jalan Sahabatku Tercinta; Teman Tersayang; Anak Termanis, “PACE”. Semoga arwahmu tidur dengan tenang dalam pelukan Mama segala Mama; Ibu Maha Ibu. Doa Om Aldo mengiringi langkahmu ke sana.

PACE…. Maafkan Om Aldo. Ini semua karena salah Om Aldo.

Om Aldo janji, akan memberi yang terbaik bagi Neo-PACE. Senyum-mu melumatkan amarahku; ria-mu menghanguskan lelahku. Kepergianmu menghancurkanku. TUHAN menyertai kita, “PACE” Tercinta…!!!

By. Om Aldo Sondegau


 

Ucapan terima kasih yang banyak kepada:

-          Om Chiko            - Om Ben             - Om Choki

-          Om Yulko             - Om Kelta           - Kel. Gayabi

-          Kel. Tiga Raja      - Kel. Migani Nduni

-          Dan semua yang telah berkorban demi Anak “PACE” Tercinta.

Share:

Sabtu, 18 Juni 2022

CERIA DI BALIK DERITA (Cerpen Anak Intan Jaya Papua)

(Cerpen Pendidikan)


Kala mentari bersinar di atas Mbulumbulu (Gunung Gergaji), menyinari bumi Intan Jaya yang masih diselimuti kabut dingin abadi, Amos bergegas dari tempat tidurnya hendak siap diri ke sekolah. Ia anak yang berasal dari keluarga yang bisa dikatakan cukup lemah untuk memegang tali kehidupan mereka. Hanyalah hasil kebun yang bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka. Dari hasil itu pula sekolah Amos tertopang walau kadang kedua orang tuanya mendapat surat peringatan karena kekurangan uang sekolah. Dengan keadaan seperti itu namun ia berhasil tamat dari suatu Sekolah Dasar Katolik di daerah pedalaman Intan Jaya. 

Suasana daerah Intan sangat dingin, apalagi kotanya dikelilingi oleh berbagai gunung yang tinggi. Amos bercita-cita menjadi seorang pegawai negeri. Setelah tamat Sekolah Dasar ia tidak melanjutkan sekolahnya namun ia tinggal bersama orangtuanya sambil menanam di kebun untuk mengumpulkan dana. Selama satu tahun ia mencari dana untuk biaya sekolah lanjutannya. Hari demi hari ia lewati namun keinginannya untuk sekolah tidak terbawa dinginnya alam Intan. Ia tak mau citanya membeku di atas gunung salju abadi. Ia selalu terus memanasinya walau orangtuanya kadang katakan, “Tak usah lanjut saja, nak. Orangtua tak sanggup”. Ia cukup lama berpikir untuk teruskan sekolah atau tidak. Hidupnya sangat susah dan bersengsara secara batiniah. Dari segi ekonominya pun sangat sengsara. Ia putus asa dengan kata-kata orangtuanya itu. Namun Ia mau berjuang dari kekurangan itu, dari kesengsaraan itu. Ia berpikir dalam benaknya, “Saya tak boleh seperti orangtua. Keluargaku harus bangkit dari segala derita hidup ini. Saya harus lanjutkan sekolahku”.

Suatu ketika kota Intan mulai dipeluki sang musim kemarau. Sungai Wabu dan Dogabu, Kemabu dan Weabu semakin menipis. Amos berniat berjalan ke daerah kota yang jauh dari daerah Intan Jaya. Ia berjalan kaki karena dana tidak mencukupi jika berangkat lewat pesawat udara. Selama empat hari tiga malam ia berjalan melewati lembah-gunung, seberangi kali-sungai, dan naik-turun gunung sampai akhirnya ia tiba juga di kota dimana ia hendak lanjutkan sekolahnya itu. Gelap dan terang dia tak kenal, lelah dan lapar dia alami.

Dalam perjalanan ketemu barang yang bisa dimakan ia makan. Sampai dia tiba di kota yang ia maksudkan itu. Dalam perjalanan ke kota itu ia sempat diserang oleh binatang buas namun berkat Tuhan, kelincahannya dan kekuatan alam lain yang selalu menyelamatkannya. Doa selalu ia lambungkan kepada Tuhan agar semua misinya ini dapat sukses. Sayang, dalam kenyataannya ia sungguh menderita, karena di kota itu ia harus berjuang seorang diri. Ia sudah mendatangi beberapa rumah keluarga agar ia diterima tinggal bersama mereka, namun selalu ditolak.

Akhirnya ia berusaha membuat sebuah gubuk dari bambu dan daun-daun kelapa. Untuk menghilangkan rasa lapar dan hausnya, ia mendatangi sebuah rumah makan untuk melamar menjadi pembantu cuci piring. Dan syukur kepada Tuhan ia diterima. Dengan demikian, sepulang sekolah ia selalu membantu cuci piring kemudian ke tempat tinggalnya dan pada sore harinya ia datang lagi untuk cuci piring bekas makan malam.

Setiap pagi ia makan buah kelapa yang tua dan kadang tidak makan. Dan juga bakar ubi singkong atau ubi petatas yang ia tanam di sekitar gubuknya itu. Siang dan malam harilah ia bisa mendapat berkat. Kadang bosnya sering memberinya beberapa lembar daun harga tukar. Sedikit demi sedikit ia menabung dari hasil itu. Ia sangat bersyukur dan semakin hari ia bekerja penuh giat dan taat pada bosnya walau kata-kata pedas kadang mengelamkannya. “Saya sebatang kara di negeri lain jadi mau lari kepada siapa? Hanyalah pada Tuhan dan tetap bertahan menerima segala penderitaan ini.” Ia tak lupa tugas utamanya yakni belajar. Pada malam hari sebatang lilin menemaninya dalam gubuk itu untuk menerangi buku-buku catatannya yang ia baca. Setiap hari terus demikian.

Ia berjalan tanpa kenal waktu. Hari terus berganti minggu. Minggu juga tak mau kalah terus berganti bulan, bulan pun terus bergulir menjembut tahun dan akhirnya satu tahun dengan tahun yang lain datang dan pergi hingga ia berada pada tingkat tiga sebuah lembaga pendidikan; SMU swasta di Nabire. Ia tak pernah ada keinginan untuk ke tanah kelahirannya. Memang ia sangat rindu dengan orangtuanya dan sanak saudaranya yang lain.

Usianya sudah semakin siang hingga berada pada tingkat perguruan tinggi. Penderitaan selalu meliliti hidupnya, namun ia sungguh taat menerima semua itu. Air mata hidupnya seolah-olah menjadi teman seperjuangannya. Ia selalu mencari jalan keluar untuk biaya hidupnya dan selalu terpenuhi walau diluar dari yang diinginkannya dan lembaga pendidikannya. Tetapi herannya bisa demikian? Ya, Tuhan itu tidak buta. Tuhan itu maha segala-galanya.

Telah sekian hari, minggu, bulan, dan tahun ia berjuang, di atas gelombang derita; tangisan jadi teman hidupnya hanya untuk mencari lembar-lembar kertas yang bertuliskan IJAZAH. Kini tiba saatnya untuk ia harus wisuda. “Tuhan terima kasih atas anugrah dan berkat yang Kau limpahkan dalam hidupku,” syukurnya pada Tuhan. “Memang benar dan kini aku menjadi tahu karena saya alami sendiri bahwa Sengsara Membawa Kebahagiaan. Semoga berkat-Mu ini dapat saya gunakan demi keluarga dan demi banyak orang serta negeriku, ”lanjutnya dalam kalbu doa. Dulunya ia sungguh menderita demi mencapai kesuksesan dan kesuksesan itu sudah di tangannya namun baru seberapa. Oleh karena itu, ia harus berjuang lagi untuk mengabdi masyarakat dan daerahnya.

Ketika semua perjuangan di negeri lain usai, ia berangkat ke kota asalnya; Intan Jaya. Sesampai di sana Ayah-Ibundanya telah tiada. Sungguh sedihlah hatinya; terasa dibebani sekian ton besi baja. Terasa sia-sia, ia harus meninggalkan segala sesuatu dan harus ke negeri seberang demi kebahagiaan keluarganya. “Tuhan, mengapa semua ini terjadi pada diriku? Haruskah aku mengali lubang dan kuburkan saja hasil perjuanganku ini? Karena terasa semua ini sia-sia saja. Kau ambil mereka semua dariku. Tiada satu yang Kau tinggalkan untuk turut merasakan bahagia bersamaku. Biarlah Tuhan, itu keputusan-Mu. Sekarang aku menjadi milik semua orang. Saya akan berkarya bagi banyak orang; demi masyarakat dan negeri ini. Terima kasih Tuhanku”, seru Amos dalam untaian doanya.

Perjuangannya hendak membahagiakan orangtuanya namun sayang itu semua sia-sia belaka. Karena orangtuanya sudah menghadap Tuhan kala dulu semasih ia bertarung hidup di atas gelombang pendidikan. Sekarang ia menjadi sadar bahwa selama ia berada di negeri seberang ia selalu berhadapan dengan salib hidupnya dan akhirnya salib itu adalah jalan keselamatan hidupnya. Dengan salib itulah ia menemukan keberhasilan yang adalah kebahagiaan dan keselamatan bagi hidupnya, anggota keluarganya, masyarakat dan daerahnya. Salib membawa keselamatan; sengsara membawa nikmat.


By: Adolf Sondegau
***Amakaniee…***
Share:

Rabu, 14 Februari 2018

Cerita Sekelompok Anak Burung Pipit



Senjah mulai sinar berkemerahan dipandulkan oleh planet Mars Pemandangan Hamparan sawah dibagian paling selatan.

Sekempok burung pipit bergerumu dalam rerumputan yang dibiarkan tumbuh oleh para petani.

Karena waktu roda terus berputar, sinar sang surya yang tadinya dengan indah terus bergeser dari pandangan mereka dan mulai menghilang ke balik bukit yang berdiri memanjang di hamparan sawah bagian Barat.

Sehingga pemandangan yang indah tadi mulai berubah, semua sudah mulai sunyi,sinar tak lagi memihak, kicauan mereka pun tak lagi terdengar, hati mulai cemas dan ingin mencari tempat berlindung yang lebih aman tapi mereka tak mampu terbang karena sayapnya belum sempurna, tapi entah bagaimana mereka bisah ada ditempat ini.

Pemandangan indah tadi telah berubah total, raja_raja gelap mulai mengubah mereka, yaitu kecemasan, keraguan,ketakutan,kedinginan, kelaparan, dan masih banyak lagi, karena itu mereka pun tampak kicauan diam dan membisu menikmati situasi itu, sambil hening tak tahu apa yang mereka heningkan.

Mungkin mereka ingin minta tolong ke induknya, melalui bahasa isyarat tapi mungkin tak akan tercapai, karena tak tau induknya berada dimana.

Waktu terus berjalan, raja-raja malam mulai menguasai, tapi mereka seolah tak saling meninggalkan dan tak ingin kehilangan satu sama lain menikmati situasi malam itu.

Situasi dan waktu terus berlomba untuk menguasai, saat itu muncullah sang kunang kunang menghiasi sang gelap dengan sangat indah, seolah olah menguatkan mereka, dan saat itu datanglah sang kunang kunang berbisik kepada mereka, “Janganlah kalian cemas terhadap sang gelap, karena tampa dia aku tak akan seindah yang kalian pandang, dan tampa aku sang gelap tak akan indah untuk kalian pandang”.

Sebab itu nikmatilah dan tidurlah dengan mimpi yang indah, besok pagi Sang surya akan menjemput kalian untuk memandang dunia yang lebih luas...
Kata ” Sang Kunang kunang”

Penulis : Nayaju FS

KIRIM KOPI JAWAILA INTAN JAYA KE SUMATRA UTARA

Share:

Selasa, 30 Januari 2018

Getar Rindu Yang Tersisa


Mandala langung...mandala langsung
Teriak kondektur taksi jurusan Abe - terminal Entrop.

Hari sabtu ini ada pertandingaan sepakbola antara Klub Kebanggaan Kota ini Persipura Jayapura melawan salah satu klu sepakbola dari Jawa.
Seperti biasanya bila ada pertandingan sepakbola maka Taksi taksi dari berbagai jurusan diberi kebebasan untuk keluar trayek,langsung menuju lapangan Mandala untuk mempermudah para Penonton yang biasanya sangat banyak dari berbagai Penjuru Kota Jayapura maupun dari Kota kota lain di seluruh Papua.

Seluruh Kota akan terlihat berwarna merah, warna khas Persipura, ketika Persipura bertanding pada hari tersebut.
Begitulah keadaannya, prestasi dan gelar gelar yg melambungkan nama Persipura Jayapura hingga sampai di level Asia membuat masyarakat begitu bangga dengan tim ini, ya bukan saja masyarakat Jayapura, namun seluruh masyarakat Papua merasa ikut memiliki Tim yang satu ini.

om masih bisa ka ? teriak Festus yang berteduh di depan sebuah toko di lingkaran abe, tempat taksi Jurusan terminal entrop sering menurunkan dan menaikkan penumpang.

masih ada satu tapi, ekonomi...
trapapa, sa tra mau terlambat..

dialog singkat antara Festus dan Kondektur di siang yang terik itu.  ekonomi yang dimaksud kondektur adalah istilah untuk tempat duduk tambahan di pinggir jendela. walau tempat duduknya tidak senyaman tempat duduk yang lain di dalam taksi, namun bayarannya tetap sama, dan banyak penumpang tidak mempersoalkannya.

Taksi di kota Jayapura, seperti layaknya hampir di seluruh Papua, adalah sebutan untuk angkutan umum seperti minibuds atau starwagon maupun yang berukuran lebih kecil lagi, jauh dari nyamannya taksi di pulau jawa.

Baju kaos merah, kaca mata riben (Ray Ban), topi, celana Jins dan sepatu kets, walaupun hanyalah baju baju lama, namun sisa sisa ketampanannya membuat tampilan Festus cukup baik. tidak lupa kantong plastik kecil berisi rokok, pinang dan air putih. lengkaplah sudah.

Festus sebagai salah satu penggemar Persipura selalu berusaha meluangkan waktu untuk menonton setiap kali tim kesayangannya berlaga di stadion Mandala Jayapura.

Begitu tiba di Stadion Mandala, Festus segera mengambil tempat duduk sesuai nomor yang tertera di Karcis yang dibelinya beberapa hari yang lalu. Tribun utama bagian kanan, di deretan paling belakang. posisi yang paling disukai Festus karena aman bila tiba tiba hujan, juga strategis untuk pantau pantau kiri kanan, hahahaha.

Seperti biasa, sebelum laga dimulai, stadion Mandala selalu bergemuruh dengan lagu lagu Papua pembakar semangat yang diputar menggelegar di seluruh stadion, membuat siapapun yang datang langsung menonton di Lapangan mandala, seolah olah terbius, terbawa dalam semangat yang luar biasa, semangat memiliki Tim hebat, yang selalu menjadi favorit Juara, semangat memiliki
Stadion di tepi pantai dengan latar tanjung kayu batu nan indah mempesona.

FIFA fairplay anthem pun berkumandang,mengirimi tim Persipura dan Tim Tamu memasuki lapangan. Tepuk tangan, standing Applaus dan teriakan kebanggaan menggelegar, benar-benar  suasana yang penuh semangat.

Sebagai seorang pegawai rendahan di sebuah Kantor Pemerintah, Pertandingan sepakbola adalah pelipur lara, dikala harus bekerja banting tulang setiap saat, Menonton sepakbola di hari sabtu, sangat tepat bagi Festus untuk melepas letih hidupnya, keluar dari rutinitas sehari hari.

Pertandingan berjalan begitu seru, saling jual beri serangan, teriakan teriakan Penonton memanggil manggil nama pemain idolanya membahana sepanjang pertandingan.

Biooooooo....biooooooo...
qu cenggg.......qu cengggg......
teriakan teriakan penonton disekeliling makin membuat suasana begitu bersemangat.

Babak pertama pun diakhiri dengan skor kaca mata ( 0:0 ). Festus beristirahat sejenak, makan pinang dan isap rokok, sambil sesekali melihat hilir mudik penonton yang hendak beristirahat sejenak.

Tanpa sadar, tatapan Festus terpaku pada deretan tempat duduk VIP bagian tengah, seorang gadis manis dgn rambut keriting yang tertata rapih, sedang asing bercanda ria dgn beberapa gadis lain dan beberapa pemuda disekitarnya.

senyum itu........
mata itu.....
leher indah itu.....
gaya tertawa dan bercandanya.....

Festus tersadar, dialah Jeni.
ohhhh makin manis, makin cantik, andehhhhh sioooo sa pu sayang dulu....
ohhhhhhh ujar festus dalam hati

Festus hapal benar tentang gadis ini, betapa tidak, Jeni adalah teman smanya dahulu, Jenilah cinta pertamanya...
hubungan percintaan yang pernah begitu indah sejak di bangku kelas 1 hingga kelas 3 sma bahkan berlanjut di bangku kuliah ketika mereka berdua sama sama menempuh perkuliahan di tanah jawa.

Jantung Festus berdegup kencang, ingin rasanya menyapa, namun perasaan malu dan tidak percaya diri membuat Festus mengurungkan niatnya.

Pikirannya jauh menerawang ke masa-masa lampau, Jeni yang cantik begitu menyayanginya. Festus adalah pujaan hati, bagi Jeni kala itu Festuslah segala galanya. Festuslah yang mengenalkan Jeni pada arti cinta dan nikmatnya masa remaja.

Festus yang memang cerdas sejak masa sekolah dulu, ditambah dengan wajah yang ganteng, tentu saja menjadi idola banyak teman sekolah kala itu.

Festus makin malu, mengingat semua itu, meninggalkan Jeni yg begitu menyayanginya hanya karena
tergoda cinta sesaat seorang teman sekolah yg lain.  Masih teringat kala itu, Jeni menangis ketika Festus meminta putus dengannya.

Kini, Jeny nampak begitu bahagia, dari senyumannya, tawanya, ahhhh Festus makin menjadi ragu, ketika menyadari bahwa Jeny yang sekarang sudah jauh berbeda. Kini Jeny adalah putri salah seorang pembesar yang tinggal  di kota ini, sedangkan Festus kini, hanyalah seorang pegawai biasa di salah satu kantor Pemerintah, tentu bukan lagi levelnya.

Gooollllllllllllll...... Biooooooooooooo biooooooooooooooooooooooo gooolllllllllllllllllll

Stadion bergemuruh dan teriakan para penonton seketika membuat Festus tersadar dari lamunannya, di penghujung babak ke 2 Bio Paulin, berhasil merobek gawang lawan dengan sundulan mautnya.

Cepat cepat Festus berdiri, bergegas meninggalkan stadion Mandala, walaupun pertandingan masih tersisa 10 menit lagi.
Festus malu, Festus minder, Festus kuatir bila terjadi pertemuan dengan Jeny di stadion ini.
Festus tak sanggup mengenang semuanya.

Laga di lapangan sudah tak dipikirkannya lagi, setidaknya 1:0 bagi Festus cukuplah.

Abe abe abe...... abe langsung...
langsung ka ?
io langsung..
berapa..
sepuluh ribu....

Sepanjang perjalan pulang, pikiran Festus menerawang jauh...
"kenapa sa tra menyapa Jen saja ee"
"de juga ada liat sa ka tidak e"

Festus menyadari... cintanya pada Jen adalah cinta sejati.
meski Festuslah yang bersalah kala itu, dan meskipun waktu sudah bergulir jauh dari masa lalu,
ternyata masih ada.... getar getar rindu yang tersisa.

Jeny pun sebenarnya sempat melihat ketika Festus akan meninggalkan stadion, namun gegap gempitanya stadion dan padatnya Penonton membuat jeny tidak bisa apa apa.

Jen hanya menatap dari kejauhan, dalam hati kecilnya Jen berkata :
"kk.... ko kurus sampe, siapa yg urus ko ka ?"
"kenapa ko menghindar dari saya ?"
"Trada yang bisa gantikan kk ko, sa masih sayang kk"

Andai Festus tau isi hati Jeny..... namun apa hendak dikata...
Dalam laut dapat di duga..dalam hati siapa tahu.
--------------

Dua tahun sudah Sejak pertemuan kembali di Lapangan Mandala, Festus mengubur dalam dalam semua perasaannya kepada Jenny sang mantan, yang begitu membekas dihatinya. Kemarin ketika ada sebuah acara seluruh kabupaten dan kota di Kantor Gubernur, mereka bersua kembali, Jenny makin mempesona, dan Festus semakin tidak mampu memendam kegalauan hatinya.
Sang mantan yang dulu pernah menggoreskan kisah indah kehidupan. Andehh... Festus hanya bisa menarik napas dalam dalam dan menghembuskannya bersama kepulan asap cigaret kegemarannya.

Hari ini di stadion Mnndala, dalam sebuah pertandingan Persipura yg sangat ramai, tanpa disangka dan diduga, tempat duduk Festus berdampingan tepat dengan Jeny dan saudara saudara. Sepanjang pertandingan yang menarik dan gegap gempitanya stadion Mandala, Festus tenggelam dalam angannya. Rasa bersalah, rasa ingin bersama, rasa malu dan rasa tidak berdaya bercampur jadi satu membuat Pikiran Festus melayang jauh melintasi tanjung kayu batu, jauh..jauh tinggi entah mungkin hingga ke negeri Vanuatu nun jauh di sana dibalik awan.

Jenny pun nampak suprise dan kaget mendapati mereka bisa duduk berdampingan di stadion Mandala. Sebuah kebetulan yang membuat hati Jenny berbunga bunga, namun semuanya itu disimpannya dalam hati. Sebagai wanita dewasa kini, jenny tau bersikap, lagi pula jenny tidak sendiri kini, dikelilingi ipar ipar dan saudara membuat jenny harus menjaga sikapnya dgn baik.
Saling melempar senyuman secara formal, bagi Festus sudah lebih dari cukup. Senyum yang dulu pernah begitu membuat Festus mabuk kepayang.
Dalam hatinya Festus bergumam " jenn..... Andai ini dulu..... Tong dua pasti su berpelukan mesra.". Ah Festus makin tenggelam dalam hayalannya pada memory indah dimasa yang sudah lewat.

Festus tidak menonton pertandingan sendiri, kali ini dia  mengajak putera kebanggaannya yg baru berumur 5 tahun sebagai teman dan sahabat yg selalu menjadis penghibur dalam kepenatan hidupnya.

Sepanjang pertandingan Jenny menawarkan berbagai macam kue, coklat, minuman kaleng pada sang buah hati Festus.
"Mau coklat ? Ambil sayang, ini ada fanta", tawar Jenny kepada putra Festus.

Festus tak kuasa menolak semua itu demi menjaga kewajaran suasana dan juga menyadari bahwa anaknya begitu menyukai cokelat dan fanta. Memang tidak banyak kue dan minum yang bisa dibeli Festus ketika nonton bola, sudah bisa membeli karcis di tempat terbaik saja sudah merupakan pencapaian besar bagi Festus. Betapa tidak, sebagai pegawai negeri rendahan di sebuah instansi pemerintah, di tengah kesederhanaan dan kekurangan, Persipura adalah segalanya. Sebagian gaji yang pas pasan disisihkan demi membeli karcis, bagi Festus, biar tra punya apa-apa tapi masih ada Persipura.

Singkat cerita pertandingan pun usai dan para penonton mulai beranjak meninggalkan lapangan Mandala. Demikian juga Festus dan putranya, saling bersalaman seadanya dengan Jenny dan ipar iparnya. Semua gejolak perasaannya di stadion Mandala disimpannya dalam dalam.

"Biarlah ..smua su berlalu...... Lihat ini anak laki-laki gagah yg bersama ko Festus, jang menghayal takaruang lagi". Festus bicara pada dirinya sendiri.

Ditempat parkiran motor sang putra berujar dengan riang :
"Bapa..tadi tanta yg disebla kitong dua tu, de kasih kk uang, baru de bilang nanti su pulang baru kase tau bapa, tanta de bilang kk harus sayang bapa, Sambil mengeluarkan lembaran 100 ribu yang tersusun rapi dan diikat karet dari dalam saku celananya.

Festus kaget sambil menghitung lembaran uang ini, 3 juta rupiah. Memang 3 juta bagi jenny yang kini adalah anak petinggi di tanah ini, bukanlah jumlah yang luar biasa, tapi bagi Festus....wahhhhh....ingin marah, malu, merasa sedih atau juga bahagia..semua berkecamuk di dalam dada. Betapa tidak, meski seorang pegawai rendahan Festus menanamkan pada anaknya untuk hidup mandiri tidak boleh tergantung pada belas kasihan orang lain, di sisi lain kata kata Jenny lewat anaknya ini begitu menusuk kalbunya.

Achh....cepat cepat dipakainya helm untuk menutupi matanya yang mulai berkaca kaca....."mari tong dua pulang..mama su tunggu"
Share:

Definition List

Unordered List

ESBATU Papua! Gubuk Berita | Opini | Hiburan | Kisah ...

Support

gridpost/Papua