Terlihat langit lazuardi sungguh bersih. Sang surya kian meninggi, meninggalkan ufuk nan timur. Bunga-bunga bermekaran mencoba tersenyum menyapa bumi. Hari itu pelajaran full di kelasnya Amos. Amos adalah seorang pria muda asal Intan Jaya, Papua. Dia merantau di Tanah Flores demi pendidikan dan panggilannya. Setelah menamatkan di sebuah Sekolah Dasar Yayasan Pendidkan Persekolahan Katolik (SD YPK Bilogai) di pedalaman Papua, ia melanjutkan di Sekolah Menengah Pertama Swasta di Desa Lamalera-Lembata-NTT.
Kini ia bertarung citanya di lembaga pendidikan calon imam di pedalaman Flores (SESADO). Cepat atau lambat yang pasti usianya telah dimakan sang waktu hingga pada usia remaja. Jam pelajaran pertama belum selesai. Tiba-tiba seorang pegawai tata usaha (Pak Damas) memanggilnya bahwa tamunya lagi menunggu di pendopo agung (Patres) seminari. Atas ijinan guru mata pelajaran saat itu (Pak Frans D.) dia segera meninggalkan ruang kelas dan menuju ke pendopo patres. “Siapa sebenarnya tamu itu?” tanyanya dalam hati. Semut tak bakalan mati jika diinjaknya. Dia berlangkah demikian pelan; melewati lorong-lorong kecil yang di kiri kanannya dihiasi bunga-bunga yang bermekaran menyapa bumi. Dari balik jendela kaca terlihat seorang wanita berkerudung putih. “Wah,siapa ini?” kagetnya dalam hati.
Aduh, ternyata ayahnya juga ada di ruangan itu. Rupanya bersama suster asal Flores yang bertarekat PRR itu. Ayahnya sedang duduk di kursi rotan yang telah disiapkan bagi para tamu. Sedangkan suster itu sedang melihat lukisan-lukisan yang digantungkan di setiap dinding untuk menghiasi ruangan itu. Sungguh, Ayahnya tak sanggup lagi untuk mengempangi kerinduan pada buah hatinya.
Anaknya jauh di tanah orang. Jauh di balik berbagai pulau. Sudah lama meninggalkan kampung halamannya, orang tuanya, serta sanak saudaranya. Pagi itu di Lembah Hokeng indah sekali. Kasih mentari bersinar begitu lembut. Berkas cahayanya menyinari bumi pertiwi. Bunga-bunga terlihat hijau mengkilat. Mencuri hati untuk menawar segumpal senyum dari setiap yang memandangnya. Dia mendekati ayahnya. Mereka saling berpelukan. “Amakibae…/Kaonak...!”
“Ame jundo, usuama te bigama tia dale...?” tanya Ayahnya dalam bahasa daerahnya, yang berarti ‘Nak, apakah kabarmu baik atau buruk...?’. “Saya baik-baik saja,Bapa!” jawabnya. “Bapa kemari buat apa?” sambung Amos sambil duduk di kursi rotan sebelah kanan Ayahnya. “Ya,tentu saja Bapa datang membawa berita tentang keluarga kita”, kata ayahnya. Ayahnya membawa sebungkus kisah sedih. Kisah kematian Ibundanya tercinta. Ibunya meninggal dunia semasih ia di bangku kelas dua SMP. Amos mendengar berita itu setelah setahun berlalu.
Sebenarnya semua anggota keluarga angkatnya di Tanah Flores sudah mengetahui berita tersebut, namun tak seorang pun yang berani menyampaikan hal itu kepada Amos. Bunga hatinya bermekar duka. Sangat pilu! Kecewa! Hatinya terasa sakit pedih bagaikan tertusuk dedurian belati yang berlapis ganda. Sungguh hatinya sangat pilu.
Tatlama mereka terdiam. Ayahnya menceritakan kisah kematian Ibunda tercintanya. Kedua bola matanya digenangi embun pilu. Kemudian gugur satu demi satu. Mengaliri setiap pipinya. Menembusi baju kaos merah yang dikenakannya hari itu. Air matanya mengalir menganak sungai, kala terbayang kembali kisah-kisah hidup bersama Ibundanya. Tubuhnya terkulai lemah di atas pangkuan kursi rotan itu.
Kali ini tak seekor cecak pun berkeliaran pada setiap dinding ruangan itu. Tak seperti biasanya. Jangankan berkeliaran, bunyi saja tidak. Apakah mereka turut berduka bersama Amos? Hanyalah isakan tangisnya yang memenuhi dan memcahkan kesunyian ruangan itu. Kesedihannya telah gugur dari raut wajahnya. Telah luntur melalui air matanya. Namun dalam hatinya, sungguh takkan pernah luntur walau dicuci dengan peluntur apapun.
“Ayah, apakah semua ini karena saya? Apakah saya sekolah terlalu jauh? Tanya Amos seraya mengusap sisa air mata di pipinya. “Tidak, kau jangan berpikir demikian. Ini takdir. Ini semua kehendak Tuhan.” Jawab Ayahnya sambil mengelus bahu anaknya yang bimbang itu. Betapa malangnya dia. Dia tidak tahu kalau Ibundanya sudah meninggal dunia setahun yang lalu. Setahun lamanya ia hidup tanpa Ibunda. Tuhan telah mengambil milik-Nya. Tapi, tak bisakah Dia memberi sedikit kesempatan lagi untuk melihat bagaimana perkembangan anak-anaknya?
“Tuhan, tak bisakah Engkau memberi sedikit waktu lagi untuk saling berbagi kisah dengan anak-anaknya ini? Sulitkah itu? Seandainya aku punya kuasa seperti-Mu, aku tak mau dia pergi. Aku tak mau dia meningglkan kami, sebelum dia mencicipi buah juang kami!” serunya dalam hati kepada Tuhan. Dia sempat merenung. Bayangkan kembali kisah-kisahnya dulu semasih bersama Ibunya. Namun yang terjadi bukanlah kekuatan, hanyalah genangan air mata yang berseri di balik kelopak matanya.
Senja kian telah menjembut malam. Cahaya kuning kemerahan yang membentuk garis di ufuk barat telah sirnah menjembut rembulan. Apakah semua kesedihannya terhanyut pergi bersama senja? Telah usai sejuta kisah hidup di atas ribaan sang bumi. Kini malam telah tiba; menyelimuti bumi dengan kembangkan layar hitamnya. Atas ijinan bapak asramanya (Rm.D’jou Niron,Pr), dia tidur bersama ayahnya sekamar. Agar kesedihan dan kerinduannya luntur pergi bersama malam.
“Ayah, bagaimana dengan sekolahku ini? Saya tidak memaksa Bapa untuk harus lanjut sekolah atau tidak,” tanya Amos dengan lemah. “Ah, kau maju dulu. Ayah yakin panggilanmu takkan sia-sia. Majulah!” “Tapi...” sela Amos. “Tuhan pasti tahu. Majulah..!” sambung Ayahnya meyakinkan dan meneguhkan hati anaknya yang bimbang dan ragu menangkapi kondisi ekonomi keluarga mereka.
Ia bimbang karena mengingat kakaknya lagi di bangku SMA serta adik-adiknya di bangku SMP dan SD. Mereka empat bersaudara. Dua pria dan dua wanita. Dia anak kedua. Ayahnya seorang petani. Hasil taninya bisa dikatakan cukup untuk menopang kebutuhan keluarga mereka. Begitu pun dengan Ibunya, tapi sambil jualan kue-kue singkong (Kasbi). Tapi sayang kini tinggal ayahnya.
“Bapa...!” panggilnya lembut. “Wae,kainaga jundo...?” jawab ayahnya sambil melayangkan pandangannya pada raut wajah anaknya. Artinya,’ya, bagaimana anak?’. “Saya senang karena Bapa mau juga ke sini, walau pertamanya saya tolak.” “Nak, sebenarnya Bapa tidak datang, tetapi Bapa khawatir jika aga(kau) terlambat dengar tentang ibumu. Apalagi setelah bertahun-tahun berlalu. Hal itu yang mendorong Bapa untuk mengunjungimu. Selain itu Bapa juga sudah lama menahan rindu pada aga,” jawab ayah Amos penuh iba.
Ayahnya kembali ke kampung halamannya setelah kurang lebih seminggu berada di Tanah Flores. Tiba saatnya mereka harus berpisah. Sungguh perpisahan itu menyedihkan hati anaknya. Dia ingin pulang bersama ayahnya. Ia memandang ayahnya. Rasanya berat sekali melihat ayahnya pulang. Ia menatap raut wajah ayahnya penuh bersirah. Meneguk setitik embun kasih bertanda damai dari hati ayahnya lewat ‘KAONAK’ tanda perpisahan. Alam menjadi saksi perpisahan dua insan itu. Mereka saling berjabat tangan (KAONAK). “Sampai jumpa lagi, Bapa!” seru Amos sedang melambaikan tangannya. “Ya, Nak. Jagalah dirimu baik-baik,” balas ayahnya sambil melangkah ke dalam mobil. Apakah benar, mereka akan berjumpa lagi? Apakah mereka akan berbagi kisah seperti kali ini?
Kini semuanya sia-sia saja. Tinggal kenangan pedih di alam juang. Semuanya jadi kenangan yang perlu diulang. Sebulan lamanya telah berlalu. Kabar angin membawa sehelai berita, bahwa sepulang dari Tanah Flores, ayahnya bertarung hidup di atas ribaan derita. Ayahnya menderita penyakit yang tidak jelas. Tak lama kemudian, datang pula selembar kabar angin menghampiri hidup Amos. Kabar itu membawa bunga duka yang kedua kalinya, bahwa ayahnya telah melepaskan nafas hidupnya pada bulan yang lalu.
Ayahnya pun pergi meninggalkan keempat anaknya sendirian. Amos kini sebatang kara di tanah rantauan. Mengais nasib di atas gelombang pilu yang datang silih berganti. Siapakah yang akan melindungi mereka?
Sungguh besar karya Yang Maha Kuasa atas rencana-Nya. Ayahnya datang bukan sekadar mengunjunginya, tapi sekaligus berpamitan dengan anaknya untuk selamanya. Manusia memang tidak mengetahui akan rencana Tuhan, tetapi Tuhan mengetahui akan rencana manusia. “Tuhan, mengapa Engkau mengambil semuanya dari kami? Bagaimana dengan panggilan-Mu ini? Bagaimanakah dengan harapanku? Apakah aku harus menggali lubang dan menguburkannya dalam tanah? Tapi aku takut, kalau-kalau dia tak bersemi dan berkembang di mata umat manusia. Aku tahu, cobaan-Mu mengukur kemampuan setiap manusia. Tapi jangan terlalu lebih, Tuhan. Jika demikian, kepada siapakah aku harus mengadu mencari tempat berteduh?” seru Amos pada Tuhan dalam untaian doanya.
Gumpalan pilu kini membungkusi hatinya. Mengawani semua derita dalam jiwa. Ingin citanya terus bersemi walau di atas alunan duka lara. Sempat layangkan angannya di atas hidup yang penuh kabut pedih. Hendak kembali ke belakang untuk menengok gundukan tanah orang tuanya. Namun keinginannya goyah diterpa sang waktu dan jarak yang memisahkannya.
Jasad orang tuanya sudah di bawah bumi. Telah menjadi penghuni nirwana. “Ijinkan aku memandang wajah himpunan bumi orang tua untuk nyalakan lilin ungu ini di antara bunga-bunga kamboja yang menghiasinya. Tapi, kalau ini bukan rencana dan kehendak-Mu, maka aku pun tak sudih bunga harapanku jadi layu,” bisik Amos dalam untaian doa kalbunya.
Telah dia tanyakan kepada segala makhluk yang hidup dan mati, namun semuanya diam seribu bahasa. Sunyi membisu memandang keraguan. Dengan demikian, dia tetap pada pendirian. Dia hendak menjawabi apa yang dikatakan ayahnya “Majulah!” Sebab kata-kata perpisahan mereka “Sampai Jumpa Lagi” takkan terjawab.
Cerpen ini mendapat nilai: 95 Pelajaran Sastra Indonesia
Kelas XI Bahasa, SMU SESADO Hokeng 2010
Adolf Sondegau
























