“Suaraku tak asing di telinggamu; suaramu juga tak asing di telinggaku. Selalu bersama dalam siang dan malam tapi Om Aldo sangat minta ‘maaf’, kita tidak saling tahu apa yang kita rasakan. Akhirnya, itu yang bisa memisahkan kita; tercipta tembok pemisah (Jurang Maut) antara Kau dan Aku untuk selamanya. Maafkan aku Pace – Sahabatku Tercinta; Temanku Tersayang – Om Aldo berjuang untuk neo-Pace. Semoga arwahmu tidur dengan tenang dalam pelukan Ibu Maha Ibu.”
PACE lahir 26 Agustus 2014. Tepat pukul 12:00 WPB, pada hari Kamis bertanggal 20 November 2014, sahabatku tercinta “PACE” menghembuskan nafas terakhir di rumah kami – Di atas kasur – Migani Nduni-Bukit Yakonde pada usia 87 hari (2 bulan 26 hari). Terbawa oleh harapan yang suram akibat kepergian sahabatku tersayang, “PACE”, maka saya mengenangkan dia dalam lembaran ini dan akan ada peringatan terhadap “PACE” Tercinta. Tiada lagi suara manja-mu, tak kedengaran lagi teriakan ajak bermain yang “PACE” – Sang Sahabatku yang Polos – lagukan kala bertolak lebih, dalam malam. Tidak terlihat lagi tubuh mungil-mu yang unik pada gerakan ekor pendekmu. Keunikanmu itulah menarik perhatian banyak teman.
Tak hanya itu, kau juga menjadi yang terdepan bagi teman-temanmu walau kadang kamu harus menerima kekalahan. Om Aldo selalu menjadi perawat kala kau harus menjadi pasien akibat pertempuran mempertahankan gengsi antara teman-temanmu. Pace selalu mengikuti apa yang Om Aldo mau. Ketika Om Aldo teriak “Pace…Paceee!!!” dari kejauhan, kau selalu membalas teriakan dengan suara merdumu yang khas. Mendengar suara tuanmu, kaulah yang terdepan menyambutnya, bagai ajudan setiaku. Kegembiraanmu membawa suasana gembira bagi teman-temanmu dan penghuni “Migani Nduni” terkhusus untuk Om Aldo. Terbayang dirimu malam ini. makanan sisamu masih tertinggal sayang sahabatku. Mengharapkan kau habisi dulu tapi tiada muka, hanya tinggal nama, “PACE”.
Riwayat Hidup dan Kronologis
Kepergian Sahabatku Tercinta, “PACE”
Sahabatku tercinta yang bernama “PACE” lahir pada Selasa, 26 Agustus 2014, malam di rumah “Migani Nduni”. Satu minggu setelah kelahirannya – 03 September 2014 – Om Aldo berbisik di telingganya, “Namamu PACE”. Dengan demikian dia dipanggil “PACE” dengan resmi sebagai nama dirinya. Dalam perjalanan waktu, PACE bertumbuh besar menjadi anak pintar dan anak baik. Tepat pada Senin, 17 November 2014, PACE mendapat sakit. Sakitnya muntah-muntah berbusa, tidak mau makan dan minum. Badannya mulai turun. Walaupun ia sakit tapi keberpihakannya pada kehendak Om Aldo sangat tinggi. Namun selama PACE sakit, ia tidak membalas teriakan memanggil namanya. Malah dia menjauh dari saya. Saya menjadi sedih dan berusaha untuk membantu kesehatannya.
Om Ben membantu saya untuk mencari obat pada Rabu 19 November 2014 dan malamnya saya memberi makan tapi tidak mau makan. Karena pada malam itu ia tidak makan maka saya turun ke kios untuk beli susu dan memberi dia minum tapi tidak mau pula. Kasih makanan enak pun tidak bisa dimakannya. Akhirnya, saya memberi minum obat cacing. Satu pil saya minum dan satunya dibagi dua. Setengahnya itu saya campur dengan air hangat dan memberi minum pada PACE. Tak lama kemudian dia muntah obat itu. Saat tidur seperti biasanya bahwa tidur di kamar. Sejak sakit itu ia tidur di kamar sebelahnya. Biasanya dia tidur dekat kaki Om Aldo.
Sejak 17-20 November 2014, PACE terbaring di atas pangkuan penderitaan. Dia sakit kurang-lebih lima hari. Pada 20 November 2014 saya ke kampus dan dia terbaring sakit di kamar. Ketika jam istirahat datang lihat, PACE masih terbaring. Setelah mengikuti mata kuliah Agama Islam, saya tidak langsung ke kamar saya, tapi saya ke saudara Samuel B. dan sampai waktunya untuk makan, maka saya pergi ke kamar makan. Seperti biasa bahwa makanan untuk PACE saya sediakan yang cukup enak. Sesampai di depan kamar “Migani Nduni” – PACE dan Om Aldo punya kamar – saya teriakin “PACE…PACEE…!!!” Tetapi tidak ada tanda-tanda bahwa ada PACE. Saya masuk ke dalam kamar dan melihat Sahabatku Tercinta; Teman Tersayang; Anak Termanis “PACE” sudah tak berdaya di atas kami punya kasur. PACE tidak memberi salam balasan lagi. Dia sudah menutup mata untuk selamanya. PACE tidak bisa bermain dengan Om Aldo lagi, tidak bisa melihat Om Aldo lagi. “Selamat jalan Sahabatku Tercinta; Teman Tersayang; Anak Termanis, “PACE”. Semoga arwahmu tidur dengan tenang dalam pelukan Mama segala Mama; Ibu Maha Ibu. Doa Om Aldo mengiringi langkahmu ke sana.
PACE…. Maafkan Om Aldo. Ini semua karena salah Om Aldo.
By. Om Aldo Sondegau
Ucapan terima kasih yang banyak kepada:
-
Om Chiko -
Om Ben - Om Choki
-
Om Yulko -
Om Kelta - Kel. Gayabi
-
Kel. Tiga Raja -
Kel. Migani Nduni
-
Dan semua yang telah berkorban demi Anak “PACE”
Tercinta.







0 komentar:
Posting Komentar
Harap Berikan Komentar Yang Membangun Dan Wajar, Terima Kasih.